Menu

Mode Gelap
Jawab Pandangan Fraksi DPRD, Amsakar Tegaskan Perubahan APBD Batam 2026 Fokus pada Pelayanan dan Kesejahteraan P2K IIBN 2026: Mahasiswa Dituntut Tak Hanya Cerdas, tetapi Juga Aktif, Inovatif dan Berkarakter Batam Jadi Lokasi Perdana SiTaskin Pesisir, Pemerintah Perkuat Pengentasan Kemiskinan Nelayan Defence Attache Tour 2026 Singgah di Batam, Kenalkan Potensi Industri Maritim dan Investasi Batam Raih WTP ke-14 Beruntun, Li Claudia: Kepercayaan Ini Harus Dijaga Batam Melesat! Investasi Tumbuh Pesat, Pemko Siapkan Teknologi Pengolah Sampah Jadi Energi

Daerah

Jejak Gelap Rokok PSG Tanpa Cukai di Batam, Distribusinya Kian Menggurita

badge-check


					Dua bungkus rokok merek PSG tanpa pita cukai dan tanpa identitas pabrik yang beredar di pasaran. Selasa(18/11). Perbesar

Dua bungkus rokok merek PSG tanpa pita cukai dan tanpa identitas pabrik yang beredar di pasaran. Selasa(18/11).

Batam — Peredaran rokok ilegal kembali mencuat di Kota Batam. Kali ini, sorotan publik tertuju pada rokok merek PSG, yang beredar luas tanpa pita cukai dan tanpa identitas pabrik. Pantauan di berbagai titik penjualan pada Selasa (18/11/2025) menunjukkan produk ini sudah masuk ke kios kecil, warung kaki lima, hingga pasar tradisional.

Ketiadaan identitas perusahaan, nomor izin, dan tanda legalitas pada kemasan membuat keberadaan PSG kembali menimbulkan pertanyaan besar mengenai asal-usul dan jalur distribusinya.

Asal-Usul Masih Gelap

Hingga kini, nama PSG tidak ditemukan dalam basis data resmi produk tembakau legal. Sumber lapangan menyebut rokok tersebut diduga masuk melalui jalur laut menggunakan jaringan penyelundup. Distribusinya dinilai rapi dan terorganisasi karena kemasan yang beredar seragam di banyak titik.

Beberapa publikasi sebelumnya juga sempat menyinggung dugaan adanya pembekingan oknum, namun belum ada pernyataan resmi dari aparat. Bea Cukai pun belum merilis data pabrik, lokasi produksi, atau pemilik merek PSG.

Penjelasan Hukum Pernah Disampaikan Seorang Ahli

Dalam sebuah wawancara beberapa bulan lalu, seorang ahli hukum pidana pernah menjelaskan bahwa perdagangan rokok ilegal tidak hanya terkait Undang-Undang Cukai, tetapi juga bersinggungan dengan regulasi perlindungan konsumen dan kesehatan masyarakat. Apabila konsumen dirugikan atau mengalami dampak kesehatan akibat rokok ilegal yang tidak sesuai komposisi, potensi pidana yang muncul bisa lebih luas.

Ia juga menekankan bahwa ketentuan pidana dalam UU Cukai sangat jelas:

pelaku usaha yang memproduksi atau mengedarkan rokok ilegal dapat dikenai pidana hingga 5 tahun penjara atau denda maksimal 10 kali nilai cukai yang seharusnya dibayarkan.

Mengenai opsi ultimum remedium, ia mengingatkan agar kebijakan denda administratif tidak dijadikan celah untuk mengecilkan jumlah barang bukti. Praktik semacam itu, bila terjadi, dapat merugikan negara.

Minimnya data resmi dan tidak adanya penjelasan asal-usul PSG membuat publik mendesak aparat melakukan pengawasan yang lebih terbuka serta memberi kejelasan mengenai rantai distribusi produknya di Batam.

Hingga berita ini diterbitkan, redaksi masih menunggu konfirmasi Bea Cukai Kota Batam dan instansi terkait mengenai sumber PSG, data penindakan terbaru, serta temuan resmi di lapangan. (Reza)

Baca Lainnya

HUT Karang Taruna Sinar Siantan ke-20, Camat Siantan Tengah: Jadikan Olahraga Perekat Persaudaraan

6 September 2026 - 16:03

Dua Pejabat Baru Dilantik di Kejari Kepulauan Anambas

4 September 2026 - 09:26

Jawab Pandangan Fraksi DPRD, Amsakar Tegaskan Perubahan APBD Batam 2026 Fokus pada Pelayanan dan Kesejahteraan

3 September 2026 - 12:30

Kejati Kepri Pelajari Laporan GAMNR soal Belanja Hotel dan Publikasi DKUKM

3 September 2026 - 11:51

DPRD Kota Batam Bahas Jawaban Wali Kota soal Ranperda Perubahan APBD 2026

2 September 2026 - 18:30

Trending di Daerah