Batam — Dugaan adanya aliran masuk beras impor melalui jalur tidak resmi kembali mencuat di Kota Batam. Rangkaian informasi lapangan yang diperoleh redaksi menggambarkan pola pergerakan yang terstruktur, penggunaan kontainer berwarna seragam, serta aktivitas sejumlah gudang tertutup yang disebut-sebut menjadi bagian dari rantai distribusi. Walau begitu, seluruh informasi ini masih membutuhkan verifikasi lanjutan dari pihak berwenang, Senin(24/11/2025).
Kontainer Biru dan Pola Pergerakan di Dua Pelabuhan
Seorang mantan pekerja bongkar muat yang pernah beraktivitas di Pelabuhan Batu Ampar dan Sekupang mengaku menyaksikan pola logistik yang menurutnya terjadi hampir setiap hari.
“Masuknya bergantian dari Sekupang dan Batu Ampar. Bisa sepuluh kontainer sehari. Warnanya biru polos,” ujarnya, Jumat (17/10).
Ia menyebut muatan kontainer kerap berupa beras impor dari Thailand dan Vietnam, yang kemudian dipindahkan ke gudang tertutup untuk proses pencampuran sebelum diedarkan.
“Habis dioplos, disebar ke toko-toko. Ada banyak merek, sebagian dikirim keluar Batam,” tambahnya.
Keterangan ini belum dapat dikonfirmasi secara independen oleh redaksi.
Gudang Senyap di Kartika Pantai Stress
Pantauan sejumlah narasumber di lapangan menyebut adanya aktivitas mencolok di sebuah gudang terpencil di kawasan Kartika Pantai Stress, Batu Ampar. Aktivitas bongkar muat disebut berlangsung dengan akses terbatas dan dominan terjadi malam hari.
Dari lokasi itu, truk besar bergerak ke area pergudangan lain di Batu Merah sebelum produk dikemas ulang. Sebagian distribusi diduga diarahkan ke jalur-jalur kecil yang dikenal masyarakat sebagai “pelabuhan tikus”.
“Pergerakannya cepat, seperti terorganisasi. Truknya masuk tanpa tanda perusahaan,” kata seorang pengamat lapangan.
Informasi ini masih bersifat awal dan membutuhkan klarifikasi otoritas.
Inisial ‘A’ dan ‘AM’ yang Kerap Muncul dalam Keterangan Narasumber
Dalam berbagai cerita lapangan, inisial A dan AM beberapa kali disebut sebagai pihak yang memiliki peran signifikan dalam sirkulasi beras impor di Batam. Narasumber menggambarkan keduanya memiliki jaringan logistik dan fasilitas penyimpanan.
“Pengusaha A bahkan disebut punya kapal dan gudang sendiri,” ujar sumber lain, Rabu (12/11).
Redaksi belum dapat memastikan kebenaran atau akurasi informasi ini. Seluruh tudingan tersebut masih sebatas keterangan narasumber dan memerlukan verifikasi resmi.
Jejak Bisnis Keluarga yang Turut Disebut Narasumber
Beberapa narasumber juga menyebut nama AK, sosok pengusaha senior di Batam sekaligus orang tua dari A. Catatan publik menunjukkan AK pernah dimintai keterangan dalam sejumlah proses hukum pada 2019–2020. Namun tidak ada putusan pengadilan yang menyatakan keterlibatannya sebagai pihak bersalah dalam kasus-kasus tersebut.
Penyebutan nama AK dalam konteks dugaan distribusi beras ilegal saat ini juga belum dapat dipastikan, dan masih membutuhkan klarifikasi dari pihak terkait.
Sumber Lapangan Sebut Ada Perusahaan Terlibat, Namun Belum Terverifikasi
Sejumlah narasumber menyebut kemungkinan adanya perusahaan tertentu dalam alur distribusi beras impor. Hingga kini, informasi tersebut belum dapat dipastikan, dan redaksi tidak menyimpulkan apa pun sebelum ada pernyataan resmi.
Otoritas Bungkam di Tengah Sorotan Publik
Redaksi telah meminta klarifikasi kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Batam terkait dugaan aliran beras impor melalui jalur tidak resmi.
Permintaan wawancara resmi telah disampaikan, termasuk upaya menghubungi Kepala Disperindag lewat pesan WhatsApp. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada respons.
Ketiadaan penjelasan membuat publik mempertanyakan efektivitas pengawasan distribusi pangan strategis di Batam.
Dampak Jika Dugaan Ini Terbukti
Sejumlah analis memperingatkan bahwa jika temuan lapangan ini benar, potensi dampaknya meliputi:
– kebocoran penerimaan negara dari bea masuk dan pajak,
– distorsi harga beras lokal,
– ketidakpastian kualitas beras yang beredar,
– melemahnya kepercayaan publik terhadap sistem pengawasan pangan.
Upaya Verifikasi Masih Berlanjut
Berita ini disusun berdasarkan hasil penelusuran lapangan dan keterangan dari sejumlah narasumber yang meminta identitasnya dilindungi.
Redaksi terus berupaya mendapatkan klarifikasi resmi dari pihak-pihak terkait untuk menjaga akurasi dan integritas informasi bagi masyarakat. (Reza)













