Tanjungpinang — Ketua Gerakan Anak Melayu Negeri Riau (GAMNR) Kota Tanjungpinang, Sasjoni, meluapkan kemarahannya atas kembali melonjaknya harga kebutuhan pokok yang hampir selalu terjadi setiap menjelang hari besar keagamaan.
“Saya heran, setiap momen hari besar, harga kebutuhan pokok selalu naik. Ada apa sebenarnya? Ini sudah sangat meresahkan masyarakat, terutama emak-emak dan para pedagang kecil,” tegas Sasjoni.
Saat ditemui pada Senin (15/12) di Kedai SAS, Pulau Penyengat, Sasjoni menyoroti peran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tanjungpinang yang dinilainya belum menunjukkan keberpihakan nyata kepada rakyat. Ia menilai DPRD terkesan tidak memiliki keberanian untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) harga pangan, baik di pasar rakyat maupun pasar modern.
“Kenaikan harga sembako ini bukan cuma soal belanja rumah tangga. Dampaknya berantai. Pedagang makanan ikut terpaksa menaikkan harga jual, dan akhirnya rakyat kecil yang paling menderita,” ujarnya.
Sasjoni menegaskan, seharusnya DPRD segera bersikap tegas dan menjalankan fungsi pengawasan, bukan justru terkesan diam.
“Saya mau tanya, apakah anggota dewan itu tidak pernah belanja ke pasar rakyat atau pasar modern? Atau memang sengaja menutup mata atas penderitaan masyarakat?” sindirnya.
GAMNR Kota Tanjungpinang mendesak DPRD dan pemerintah daerah segera turun ke lapangan, melakukan sidak harga pangan, serta mengambil langkah konkret untuk mengendalikan lonjakan harga sembako yang terus berulang setiap tahun.
Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah bahan pokok di Kota Tanjungpinang mengalami lonjakan harga. Kondisi ini dipicu menipisnya stok serta hambatan distribusi logistik dari Batam ke Tanjungpinang. Komoditas seperti cabai, bawang, sayur-mayur, beras impor, hingga daging ayam dilaporkan sudah mengalami kenaikan sejak beberapa pekan terakhir. Kenaikan ini juga dipengaruhi faktor cuaca serta tertahannya pasokan bahan pokok dari Kota Batam.
Menanggapi kondisi tersebut, Anggota Komisi II DPRD Kota Tanjungpinang, Agus Chandra Wijaya saat dihubungi melalui sambungan telepon WhatsApp pada Selasa (16/12/2025), menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan sejumlah langkah antisipasi.
“Menurut kami kelangkaan disebabkan karena inflasi, dan kami minggu kemarin sudah rapat terkait kelangkaan bahan pokok di Kota Tanjungpinang bersama Asosiasi Distributor Bahan Pokok (ADIBAPOK) Kota Tanjungpinang,” ujarnya.
“Setelah rapat, kami turun ke lapangan dan survei. Hasilnya, pertama untuk beras sampai hari ini di gudang Bulog tetap mencukupi untuk kebutuhan masyarakat kita. Namun, beras impor ada permasalahan tidak ada stok. Kalau kita menginginkan beras impor harus mengajukan dan melengkapi persyaratan impor, di kita ini banyak persyaratannya yang kurang lengkap. Dan waktu Menteri Pertanian kunjungan ke Kota Batam mengingatkan bahwa negara sedang menjaga swasembada,” lanjutnya.
Ia menyebutkan, untuk komoditas gula, DPRD tengah berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) guna mengecek kebutuhan dan pemesanan. Sementara itu, kelangkaan daging ayam potong terjadi karena banyaknya pasokan yang dijual ke luar Pulau Bintan.
“Kami sudah meminta kepada Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Tanjungpinang untuk mengeluarkan kebijakan demi melindungi kebutuhan pokok di Kota Tanjungpinang,” jelas Agus.
Terkait ikan, Agus menyebut kenaikan harga tidak terlalu signifikan karena dipengaruhi cuaca nelayan. Sedangkan sayur-sayuran serta buah impor masih menjadi persoalan utama di pasaran.
“Bea dan Cukai Tanjungpinang siap memfasilitasi serta membantu untuk memenuhi kebutuhan pokok di Kota Tanjungpinang,” katanya.
“Intinya, Forkopimda tingkat Provinsi dan Kota sudah duduk bersama dan menghasilkan satu mufakat bahwa barang-barang kebutuhan pokok harus bisa dibantu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa Disperindag telah memfasilitasi dan mensosialisasikan kepada para pedagang terkait dokumen yang perlu dilengkapi, khususnya pedagang bawang putih dan bawang merah.
“Harga saat ini, setelah berkoordinasi dengan beberapa pedagang, sudah mulai ada progres untuk harganya dan mulai stabil,” ungkapnya.
Sementara itu, menanggapi kritik GAMNR yang menyebut DPRD terkesan cuek, Anggota Komisi II DPRD Kota Tanjungpinang, Agus Chandra Wijaya, memberikan penjelasan.
“Pada 10 hari yang lalu, memang ada beberapa warga menghubungi kami, tetapi kan kita perlu meminta pedagang menyurati kami. Sudah kami tunggu-tunggu tidak ada. Sehingga, pada saat rapat paripurna, Ketua DPRD langsung membuat surat kepada kami untuk turun ke lapangan dan rapat Forkopimda,” tutupnya. (Reza)













