Menu

Mode Gelap
residen Prabowo Serahkan Hewan Kurban untuk Warga Batam, Pemko Ajak Perkuat Solidaritas Wali Kota Batam Amsakar Achmad Berangkat Haji Bersama Kloter 25 Ojol Nasional Tak Mundur: 16 Daerah Siap Aksi Meski Pemerintah Terbitkan PP 27/2026 Audiensi ke Pemko Batam, ADOB Soroti Tarif Ojol, Operasional Taksi Bandara, Hingga BPJSTK Driver Excavator dan Dump Truck Beroperasi Bebas, Cut and Fill di Sei Temiang Batam Diduga Tak Kantongi Izin Apel Siaga Batam Peduli Bencana, Pemko Tegaskan Komitmen Solidaritas Antar Daerah

Daerah

Di Tengah Efisiensi OPD, Anggaran Seragam BKAD Melambung, Sas Jhoni Desak Gubernur Evaluasi Venni

badge-check


					Ketua GAMNR Kota Tanjungpinang, Said Ahmad Syukri (Sas Jhoni), bersama dokumentasi pengadaan pakaian dinas BKAD Kepri yang menjadi sorotan publik, Jum'at (29/5). Perbesar

Ketua GAMNR Kota Tanjungpinang, Said Ahmad Syukri (Sas Jhoni), bersama dokumentasi pengadaan pakaian dinas BKAD Kepri yang menjadi sorotan publik, Jum'at (29/5).

Tanjungpinang — Gerakan Anak Melayu Negeri Riau (GAMNR) Kota Tanjungpinang mendesak Gubernur Kepulauan Riau mengevaluasi Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kepri, Venni Meitaria Detiawati, setelah anggaran pengadaan pakaian dinas BKAD menjadi sorotan karena nilainya jauh melampaui sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) lain di lingkungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.

Persoalan tersebut bahkan telah dilaporkan GAMNR ke Kejaksaan Tinggi Kepulauan Riau pada Senin (25/5/2026) melalui Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kejati Kepri. Laporan itu diterima oleh petugas PTSP, Deva.

Ketua GAMNR Kota Tanjungpinang, Said Ahmad Syukri atau yang akrab disapa Sas Jhoni, mengatakan evaluasi diperlukan untuk memastikan setiap perencanaan anggaran di lingkungan pemerintah daerah dilakukan secara proporsional, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Yang menjadi perhatian kami bukan semata-mata besar kecilnya anggaran, tetapi bagaimana perencanaan itu disusun dan apakah sudah sesuai dengan prinsip efisiensi serta kebutuhan riil organisasi,” kata Sas Jhoni, Jum’at (29/5/2026).

Berdasarkan dokumen pengadaan yang diperoleh melalui mekanisme permohonan informasi publik, anggaran pengadaan pakaian dinas BKAD Kepri tahun 2025 tercatat sebesar Rp710.971.500 dengan realisasi Rp579.823.117.

Angka tersebut jauh di atas sejumlah OPD lain di lingkungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. Data yang dihimpun menunjukkan anggaran pakaian dinas pada beberapa OPD berada pada kisaran puluhan juta rupiah. Biro Umum menganggarkan sekitar Rp36 juta, BPSDM Rp73,5 juta, Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Rp40,5 juta, Badan Penghubung Rp18 juta, Disnakertrans Rp44,24 juta, BKORPRI Rp61,93 juta, serta DPPPPAKB sekitar Rp50,4 juta.

Perbedaan yang cukup mencolok itu, menurut Sas Jhoni, layak menjadi perhatian pemerintah daerah. Terlebih, BKAD merupakan perangkat daerah yang memiliki fungsi strategis dalam pengelolaan keuangan dan aset daerah.

“Ketika ada perbedaan yang sangat jauh dibanding OPD lain, tentu publik berhak mengetahui apa dasar pertimbangannya. Transparansi menjadi penting agar tidak menimbulkan spekulasi,” ujarnya.

Menurut dia, laporan yang disampaikan ke Kejati tidak menyoroti proses pembayaran, melainkan berfokus pada tahap perencanaan pengadaan. GAMNR menilai aspek tersebut penting ditelaah untuk memastikan seluruh proses pengadaan berjalan sesuai prinsip tata kelola pemerintahan yang baik.

“Kalau dari awal sudah tepat, maka hasilnya juga akan mencerminkan efisiensi. Tapi kalau dasarnya tidak jelas, tentu perlu ditelusuri,” katanya.

Selain nilai anggaran yang tinggi, GAMNR juga menyoroti adanya selisih antara nilai perencanaan dan realisasi pengadaan. Berdasarkan dokumen yang diperoleh, terdapat selisih sebesar Rp131.148.383 antara pagu dan realisasi anggaran.

Di sisi lain, pengadaan juga dilakukan melalui beberapa paket dengan penyedia yang sama. Kondisi tersebut turut memunculkan pertanyaan mengenai dasar penyusunan paket dan perencanaan pengadaan.

Sementara itu, Sekretaris BKAD Kepri sekaligus Kuasa Pengguna Anggaran, Sri Astuti, sebelumnya menjelaskan bahwa pengadaan pakaian dinas dilakukan berdasarkan kebutuhan pegawai dan mengacu pada standar harga yang berlaku.

“Kita menyesuaikan dengan anggaran, kita tidak tahu persis, kita kan bukan orang konveksi, yang pastinya kita mau yang terbaik,” ujarnya dalam keterangan sebelumnya.

Bagi Sas Jhoni, penjelasan tersebut belum sepenuhnya menjawab pertanyaan publik mengenai perbedaan anggaran yang cukup mencolok dibandingkan sejumlah OPD lain.

“Evaluasi merupakan hal yang biasa dalam pemerintahan. Justru melalui evaluasi yang objektif, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dapat terjaga,” ujarnya.

Ia berharap Gubernur Kepulauan Riau dapat memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut dan melakukan evaluasi secara menyeluruh demi menjaga integritas pengelolaan anggaran daerah. (Reza)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Retribusi Pelabuhan Roro Antang Resmi Diterapkan, Pengguna Jasa Bayar Rp3.000

29 Mei 2026 - 16:42

Iduladha 1447 H, Pemko Batam Pastikan Hewan Kurban Tepat Sasaran hingga Wilayah Kepulauan

29 Mei 2026 - 11:42

Ngopi Santai Penuh Keakraban, Wartawan Anambas dan Polres Perkuat Sinergi

28 Mei 2026 - 18:09

residen Prabowo Serahkan Hewan Kurban untuk Warga Batam, Pemko Ajak Perkuat Solidaritas

28 Mei 2026 - 11:34

Pangkogabwilhan I Serahkan Sapi Kurban ke HMNI Kepri, Perkuat Sinergitas dengan Masyarakat Nelayan

27 Mei 2026 - 21:42

Trending di Daerah