Anambas – Pemerintah Kecamatan Siantan terus melakukan berbagai upaya untuk menekan angka stunting di wilayahnya. Salah satu langkah yang dilakukan adalah turun langsung ke desa-desa yang tercatat memiliki angka stunting cukup tinggi.
Sekretaris Kecamatan Siantan, Badariyah Anggerini, mengatakan pihak kecamatan bersama tim kesehatan, kader posyandu, dan pemerintah desa secara rutin melakukan kunjungan lapangan untuk memberikan edukasi sekaligus bantuan gizi kepada masyarakat.
“Kami mengadakan kunjungan ke daerah-daerah yang angka stuntingnya cukup tinggi. Kami bekerja sama dengan desa untuk memberikan bantuan gizi kepada anak-anak serta membawa tim kesehatan untuk memberikan pendampingan,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (6/3/2026).
Menurutnya, kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan anak, termasuk rutin memeriksakan balita ke posyandu, fasilitas kesehatan, maupun dokter anak.
“Intinya kami memberikan arahan dan pandangan agar masyarakat menyadari pentingnya memeriksakan anak-anak mereka ke posyandu, ke lembaga kesehatan atau dokter anak, serta memberikan asupan gizi sesuai aturan,” jelasnya.
Badariyah mengakui bahwa wilayah Kecamatan Siantan sempat mencatat angka stunting yang cukup tinggi, meskipun secara geografis berada di kawasan perkotaan.
“Kami juga sempat heran, Siantan ini kan berada di tengah kota, tetapi angka stuntingnya cukup tinggi. Namun kami yakin dengan upaya yang sudah dilakukan sejak tahun lalu, angka tersebut bisa terus menurun,” katanya.
Sejak tahun lalu, pihak kecamatan bersama pemerintah desa telah turun langsung ke rumah-rumah keluarga yang tercatat memiliki anak stunting untuk memberikan bantuan makanan bergizi serta pendampingan dari tenaga medis.
“Kami membawa tim medis dan kader posyandu ke desa-desa yang ada di wilayah Kecamatan Siantan. Kami juga memiliki dokumentasi kegiatan tersebut saat turun langsung ke lapangan,” ujarnya.
Selain fokus pada anak yang telah terindikasi stunting, program pencegahan juga menyasar ibu hamil serta remaja sebagai calon orang tua di masa depan.
“Target utama kita memang anak yang terkena stunting, tetapi ibu hamil dan remaja juga menjadi sasaran penyuluhan. Pernikahan usia dini juga bisa menjadi salah satu penyebab stunting,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa edukasi kepada remaja dilakukan untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kesehatan sebelum memasuki masa pernikahan, termasuk mengonsumsi vitamin serta memperhatikan asupan gizi.
Selain itu, Badariyah juga menekankan pentingnya pemberian ASI bagi bayi karena dinilai sebagai sumber gizi terbaik bagi pertumbuhan anak.
“ASI itu sumber gizi yang sangat baik dan tidak ada duanya. Selain menyehatkan, juga lebih hemat secara ekonomi dibandingkan membeli susu formula,” jelasnya.
Dalam pelaksanaan program tersebut, pihak kecamatan juga menggandeng kader posyandu, tenaga kesehatan, serta pemerintah desa yang mengetahui langsung kondisi masyarakat di wilayah masing-masing.
“Kami bersama kader posyandu dan tim kesehatan turun ke desa-desa. Pemerintah desa juga sangat mendukung karena mereka yang mengetahui titik-titik lokasi yang perlu mendapatkan perhatian,” katanya.
Badariyah mencontohkan salah satu kasus stunting di wilayah Tarempa Selatan yang kini menunjukkan perkembangan positif setelah mendapatkan pendampingan dan asupan gizi tambahan.
“Awalnya kami kira anak tersebut tidak bisa beraktivitas dengan baik. Tetapi saat kegiatan Safari Ramadhan kemarin, saya melihat langsung anak itu sudah sehat dan bisa berlari-lari,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pemantauan terhadap kasus stunting akan terus dilakukan di seluruh desa yang berada di wilayah Kecamatan Siantan.
“Setiap desa di Kecamatan Siantan tetap kita pantau,” katanya.
Ke depan, pihaknya berharap angka stunting di wilayah Kecamatan Siantan dapat terus menurun bahkan hilang sama sekali.
“Kami berharap di Kecamatan Siantan tidak ada lagi anak-anak yang mengalami stunting. Kalaupun masih ada, jumlahnya bisa terus menurun,” harapnya.
Ia juga menegaskan bahwa penanganan stunting membutuhkan kerja sama berbagai pihak, baik pemerintah desa, tenaga kesehatan, maupun instansi terkait di tingkat kabupaten.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Harus ada koordinasi dan kolaborasi dengan semua pihak agar anak-anak kita bisa tumbuh sehat, cerdas, dan mampu meraih cita-cita mereka,” tutupnya. (Azmi)













