“Amran, Pemimpin Redaksi Koran Perbatasan, memilih pena sebagai mahkota baru, menjaga integritas berita di Natuna meski darah raja mengalir dalam dirinya.”
PEMIMPIN Redaksi Koran Perbatasan, Amran, adalah keturunan langsung Raja Narasinga II dari Indragiri. Meski darah penguasa mengalir dalam nadinya, Amran memilih hidup bersahaja tanpa memakai gelar “Raja”, dan mengabdikan diri melalui jurnalisme untuk mengawal informasi di daerah perbatasan Natuna.
Di garda terdepan utara Indonesia, nama Amran sudah menjadi jaminan bagi integritas berita. Ia berdiri tegak mengawal kedaulatan informasi. Di dunia pers perbatasan, Amran adalah nama yang disegani sebagai Pemimpin Redaksi Koran Perbatasan. Sosoknya tenang, bicaranya lugas, dan penanya tajam. Namun, di balik kesahajaan pria ini, tersimpan satu fakta yang bisa membuat siapa pun terpaku. Amran adalah zuriat lurus dari Raja Narasinga II, sang penakluk Portugis yang legendaris dari Indragiri.
Lalu, muncul pertanyaan yang menggelitik rasa ingin tahu banyak orang. Jika di dalam nadinya mengalir darah penguasa, mengapa ia tak memakai gelar Raja di depan namanya? Jawabannya adalah sebuah perpaduan antara kesetiaan pada adat dan pilihan jalan hidup yang bersahaja.
Takdir di garis perempuan, saat adat menentukan takdir nama menelusuri nasab Amran adalah perjalanan menuju jantung Simandolak. Bermula dari Raja Bagung hingga tokoh sentral Raja Alamsyah. Namun, sejarah mencatat sebuah belokan unik pada generasi berikutnya. Raja Alamsyah memiliki seorang putri kandung bernama Raja Zainah.
Dalam tatanan adat Melayu Indragiri yang menganut sistem patrilineal, gelar Raja bagaikan panji yang hanya diwariskan melalui garis laki-laki. Sebagai seorang putri, Raja Zainah mewarisi kemuliaan darah tersebut secara utuh, namun secara aturan adat, ia tidak mewariskan gelar formal kepada anak-cucunya. Inilah alasan mengapa keturunan beliau, mulai dari M. Madon hingga Amran, tumbuh tanpa atribut gelar, meskipun secara biologis mereka adalah darah daging sang pemimpin.
Darah tidak pernah berbohong, meskipun gelar tidak lagi tertulis, sebuah prinsip yang dijaga erat dalam sejarah keluarga besar ini. Reinkarnasi perjuangan dari pedang ke pena bagi Amran, jurnalisme adalah medan tempur barunya. Jika dahulu Raja Narasinga II menjaga kedaulatan dengan strategi dan keberanian, kini Amran menjaga perbatasan dengan tinta dan kejujuran berita.
Pena baginya adalah senjata modern untuk membela hak-hak rakyat yang seringkali terabaikan di daerah terluar. Namun, seperti seorang raja yang tegas menghadapi intrik dan perlawanan, Amran tak jarang mendapat ancaman, fitnah, atau permusuhan dari pihak yang terganggu oleh karya jurnalistiknya. Kritik tajamnya kerap dianggap serangan, mencerminkan dinamika kepemimpinan di masa lalu, di mana menegakkan keadilan selalu menimbulkan konflik.
Di meja redaksi, wibawa Simandolak tetap terjaga melalui setiap baris berita yang ia lahirkan. Ia membuktikan bahwa martabat sejati seorang keturunan Raja tidak terletak pada seberapa panjang gelar yang disandang, melainkan pada seberapa besar pengabdian yang ia berikan untuk tanah airnya.
Kisah Amran adalah pengingat bahwa marwah sejati adalah tentang pengabdian, bukan sekadar panggilan. Di jantung perbatasan Natuna, ia terus menulis dan memastikan suara rakyat terdengar nyaring ke pusat, membuktikan bahwa seorang keturunan pemimpin sejati akan selalu menemukan cara untuk menjaga kedaulatan bangsanya melalui karya nyata. Bagi Amran gelar bukanlah tujuan, yang utama adalah tanggung jawab. Ia memilih berdiri sebagai wartawan. Sebagai Pemimpin Redaksi Koran Perbatasan, bukan sebagai Raja. Itulah warisan sejarah yang mengalir dalam darah keturunan Raja Narasinga II.
Jika dahulu perjuangan dilakukan melalui kepemimpinan kerajaan, hari ini perjuangan itu menjelma dalam bentuk karya jurnalistik yang tegas dan tajam. Sebagai Pemimpin Redaksi Koran Perbatasan, Amran dikenal konsisten mengangkat isu-isu di wilayah perbatasan, khususnya Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, daerah 3T yang sering luput dari sorotan nasional.
Berita-beritanya kerap menyoroti transparansi anggaran daerah, realisasi APBD, pembangunan desa terpencil, kepentingan masyarakat kecil, dan kinerja pejabat publik. Nada tulisannya tegas, analisisnya tajam, keberpihakannya jelas kepada orang banyak. Sebagian orang mungkin melihatnya sebagai sikap keras.
Namun jika ditarik ke belakang, ke garis silsilah panjang itu, ketegasan tersebut bukan sesuatu yang lahir tiba-tiba. Ia adalah darah perjuangan yang mengalir dari sejarah. Jika dahulu kerajaan menjaga wilayah dari ancaman fisik, hari ini ia menjaga wilayah dari ketidakadilan informasi. Jika dahulu kekuasaan ditegakkan melalui struktur adat, hari ini integritas ditegakkan melalui fakta dan data.
Dari Narasinga hingga Natuna. Dalam sejarah, Narasinga II disebut sebagai figur konsolidator kekuasaan. Dalam konteks modern, konsolidasi itu berubah bentuk menjadi konsolidasi informasi. Di wilayah perbatasan seperti Natuna yang berbatasan langsung dengan Laut Natuna Utara, informasi bukan sekadar berita. Ia adalah bentuk pertahanan kedaulatan sosial.
Melalui media, Amran menjaga kesadaran publik. Melalui tulisan, ia membangun kontrol sosial. Melalui investigasi, ia menguatkan akuntabilitas. Gelar boleh tidak digunakan. Namun nilai kepemimpinan tetap berjalan. Sejarah tetap dihormati, garis keturunan tetap diakui. Namun peran sosial disesuaikan dengan zaman.
Bagi Amran, pena sebagai mahkota baru, jika dulu mahkota menjadi simbol kepemimpinan, hari ini pena adalah mahkota itu. Di ruang redaksi Koran Perbatasan, jauh dari istana dan singgasana, perjuangan tetap berlangsung. Bukan dengan pasukan, melainkan dengan data. Bukan dengan titah, melainkan dengan laporan investigatif.
Darah raja mengalir di pena, warisan Indragiri tetap hidup, semangat Narasinga tetap menyala. Hanya bentuknya yang berubah. Kini ia bernama keberanian mengungkap fakta di wilayah perbatasan. Derap sejarah itu tak lagi terdengar lewat denting istana, melainkan melalui ketukan papan ketik. Nama Amran hari ini lebih dikenal sebagai Pemimpin Redaksi Koran Perbatasan bukan sebagai “Raja”.
Sejarah Raja Narasinga II & Raja Bagung
Raja Narasinga II adalah Sultan Indragiri ke-4 dan pahlawan penentang Portugis yang membawa kerajaan pada puncak kejayaan Islam. Garis keturunannya diteruskan melalui Raja Bagung, leluhur utama yang menurunkan Raja Alamsyah di Simandolak. Hubungan sejarah ini menjadi pilar legitimasi kuat bagi seluruh trah keturunan Indragiri hingga saat ini.
Jejak Silsilah Jalur Simandolak
Puncak Sejarah, Raja Narasinga II (Pahlawan Malaka). Leluhur Utama, Raja Bagung (Akar Simandolak). Generasi 1, Raja Alamsyah, Generasi 2, Raja Zainah (Putri Raja / Titik Transisi Gelar). Generasi 3, M. Madon, Generasi 4, M. Ali, Generasi 5, M. Jusa Ali, Generasi 6, Masbah, Generasi 7, Amran (Pemimpin Redaksi Koran Perbatasan).
Menganal Sosok Amran, Pemimpin Redaksi Koran Perbatasan













