Menu

Mode Gelap
Audiensi ke Pemko Batam, ADOB Soroti Tarif Ojol, Operasional Taksi Bandara, Hingga BPJSTK Driver Excavator dan Dump Truck Beroperasi Bebas, Cut and Fill di Sei Temiang Batam Diduga Tak Kantongi Izin Apel Siaga Batam Peduli Bencana, Pemko Tegaskan Komitmen Solidaritas Antar Daerah Komisi I Pertanyakan Data TKA PT JEE, Ada yang Masuk Pakai Visa Wisata? LIBAS Laporkan Proyek Citywalk Lubuk Baja: Ada Apa dengan Perizinannya? Dugaan Pembuangan Limbah B3, LIBAS Laporkan Dua Perusahaan ke Polda Kepri

Daerah

BPS Anambas: Angka Ekonomi Naik, Tapi Tak Semua Masyarakat Merasakan

badge-check


					Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kepulauan Anambas di Desa Tarempa Selatan, Senin (30/3/2026). BPS menyebut sektor migas masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah, meski dampaknya ke masyarakat dinilai lebih terlihat dari sektor nonmigas. Perbesar

Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kepulauan Anambas di Desa Tarempa Selatan, Senin (30/3/2026). BPS menyebut sektor migas masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah, meski dampaknya ke masyarakat dinilai lebih terlihat dari sektor nonmigas.

Anambas – BPS Kabupaten Kepulauan Anambas melalui Statistik Ahli Pertama, Zahra, mengungkapkan bahwa sektor minyak dan gas (migas) masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kepulauan Anambas.

“Secara keseluruhan, setiap tahunnya memang faktornya itu dari migas, yaitu pertambangan dan penggalian. Pertambangan dan penggalian yang di dalamnya ada migas, itu sangat berperan utama sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi.” ujarnya saat diwawancara, Senin (30/3/2026).

Zahra menjelaskan, dalam penghitungan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), terdapat dua pendekatan utama, yakni pengeluaran dan lapangan usaha. Pada pendekatan pengeluaran, dikenal istilah harga berlaku dan harga konstan.

“Mungkin secara umum saja, sebenarnya PDRB itu terbagi dua, yaitu pengeluaran dan lapangan usaha. Kalau dari posisi pengeluaran itu ada yang namanya harga berlaku dan harga konstan. Konstan ini secara umum perhitungannya sama, kita menghitung prioritas produksinya. Sedangkan harga berlaku, kita sekaligus menghitung perubahan harganya.” jelasnya.

Ia menambahkan, perhitungan harga konstan lebih difokuskan untuk melihat pergerakan produksi dari masing-masing sektor ekonomi yang ada di lapangan.

“Sedangkan yang konstan itu kita cenderung untuk melihat pergerakan produksinya dari setiap sektor lapangan usaha yang kami data.” tambah Zahra.

Adapun sektor-sektor yang dihitung mencakup hampir seluruh aktivitas ekonomi, mulai dari pertanian, kehutanan, pertambangan, industri pengolahan, hingga jasa seperti transportasi dan layanan kesehatan.

“Untuk sektor lapangan usahanya itu seperti pertanian dan kehutanan kami data, pertambangan dan penggalian kami data. Pokoknya kalau bisa seluruh sektor lapangan usaha itu kami data, sampai ke jasa, seperti kapal-kapal, rumah sakit, industri pengolahan, semuanya kami data.” katanya.

Dalam lima tahun terakhir, sektor migas masih menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi Anambas. Namun demikian, dampaknya terhadap masyarakat tidak selalu terlihat secara langsung.

“Kalau dilihat dari dampak pertumbuhan ekonomi itu, lebih ke pergerakan ekonominya. Jadi kita tidak selalu melihat dampaknya kepada masyarakat.” ujarnya.

Menurut Zahra, untuk melihat dampak yang lebih nyata terhadap masyarakat, dapat dilihat dari PDRB nonmigas.

“Kalau dilihat dari dampaknya ke masyarakat, kita punya dua sisi, yaitu migas dan nonmigas. Kalau dari sektor migas sendiri, mungkin secara kasat mata memang tidak terlalu terlihat dampaknya kepada masyarakat.” katanya.

Ia menilai, sektor nonmigas justru lebih mencerminkan perkembangan ekonomi masyarakat, termasuk pada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

“Kalau kita melihat dampaknya ke masyarakat, itu sebenarnya dari PDRB nonmigas. Jadi lebih terlihat bagaimana perkembangan perekonomian masyarakat. Untuk perekonomian UMKM khususnya, mungkin bisa meningkat. Walaupun tidak terlalu signifikan, tapi dari tahun ke tahun Alhamdulillah terus meningkat.” ungkapnya.

Lebih lanjut, Zahra menyebut masih ada pemahaman yang belum utuh di masyarakat terkait konsep pertumbuhan ekonomi dan metode pengukurannya.

“Mungkin yang pertama dari sisi konsepnya sendiri, pertumbuhan ekonomi itu masih belum terlalu dipahami secara luas, bagaimana metodenya dan apa saja yang diperhitungkan.” lanjutnya.

Ia menegaskan bahwa penghitungan ekonomi tidak hanya terbatas pada aktivitas perdagangan di pasar, melainkan mencakup seluruh kegiatan ekonomi yang terjadi di masyarakat.

“Mungkin masyarakat menganggapnya hanya sekitar pedagang di pasar. Padahal tidak, seperti kenaikan gaji, produksi pertanian, layanan rumah sakit, itu semua kita tangkap.” tegasnya.

Dalam mengukur daya beli masyarakat, BPS menggunakan pendekatan pengeluaran riil per kapita yang diperoleh melalui survei langsung di lapangan.

“Untuk mengukur daya beli masyarakat, kita pakai pendekatan pengeluaran riil per kapita. Untuk memastikan data itu sesuai dengan kondisi masyarakat, yang pertama kami benar-benar memotret apa yang ada di lapangan. Di kami ada yang namanya mitra statistik, dan mitra kami inilah yang datang langsung ke responden satu per satu untuk mendapatkan data yang dibutuhkan. Jadi kami benar-benar tidak hanya sekadar bertanya, tapi datang langsung ke lapangan untuk melihat bagaimana kondisi saat itu,” tutup Zahra. (Azmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Belanja Pegawai Tembus Batas, Nasib P3K Anambas Masih Tanda Tanya

31 Maret 2026 - 10:15

Anggaran Publikasi Pemprov Kepri Masuk Radar KPK

28 Maret 2026 - 15:03

Gurindam 12 Menuai Kritik, Pemprov Kepri Didorong Ambil Langkah Tegas

26 Maret 2026 - 21:01

Kapolres Anambas: 150 Personel Gabungan Disiagakan Amankan Objek Wisata

24 Maret 2026 - 18:51

Bupati Aneng Buka Turnamen Sepak Bola HUT ke-54 Desa Ladan, Siapkan Bonus Tiga Gol Pertama

24 Maret 2026 - 18:33

Trending di Daerah