Tanjungpinang – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang beraktivitas di kawasan Tepi Laut Taman Gurindam 12 menyampaikan klarifikasi sekaligus sikap resmi terkait isu yang berkembang menjelang pelaksanaan Fair Ramadhan Kurma 2026.
Koordinator Pedagang Cemilan, Maladi, menyesalkan beredarnya narasi di sejumlah grup pedagang maupun pemberitaan yang dinilai tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan. Ia menegaskan, para pedagang justru menyambut baik inisiatif Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melalui Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau dalam penyelenggaraan Fair Ramadhan Kurma 2026 di Zona B.
Menurut Maladi, momentum Ramadhan merupakan kesempatan penting bagi pelaku usaha kecil untuk meningkatkan pendapatan keluarga.
“Kami pedagang sangat senang dengan adanya event Kurma 2026. Ini membantu perekonomian kami di bulan puasa. Tidak benar jika dikatakan kami melakukan penolakan,” tegasnya, Minggu (15/2/2026).
Hal senada disampaikan Wahidin, Koordinator Pedagang Bandrek Tepi Laut G12. Ia menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan tersebut dan memastikan para pedagang tetap solid.
Wahidin menilai keterlibatan pedagang yang selama ini berusaha di Zona C merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap keberlangsungan UMKM lokal.
“Kami berterima kasih karena tetap dilibatkan. Bulan Ramadhan adalah momen mencari rezeki secara halal dan bermartabat. Maka kami menyambut baik setiap kegiatan yang memberi ruang usaha bagi pedagang kecil,” ujarnya.
Sebagai bentuk tanggung jawab moral, para koordinator pedagang UMKM Tepi Laut G12 juga menyampaikan permohonan maaf apabila berkembang isu seolah-olah terdapat gerakan perlawanan atau penolakan terhadap kegiatan di Zona B.
Mereka memastikan, pada prinsipnya pedagang mendukung program pemerintah yang bertujuan menggerakkan ekonomi kerakyatan. Para pedagang juga berharap seluruh pihak dapat menahan diri dari manuver yang berpotensi memecah solidaritas pelaku usaha kecil.
Bagi mereka, stabilitas, kebersamaan, dan kepastian berusaha jauh lebih penting demi menjaga marwah kawasan wisata serta keberlangsungan ekonomi masyarakat di Kota Tanjungpinang.
“UMKM bersatu untuk ekonomi yang tumbuh, bukan untuk konflik yang gaduh,” tutup Maladi. (Red)













