Menu ✖

Mode Gelap
Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Ribuan Warga Batam Tumpahkan Kegembiraan Jawab Pandangan Fraksi DPRD, Amsakar Tegaskan Perubahan APBD Batam 2026 Fokus pada Pelayanan dan Kesejahteraan P2K IIBN 2026: Mahasiswa Dituntut Tak Hanya Cerdas, tetapi Juga Aktif, Inovatif dan Berkarakter Batam Jadi Lokasi Perdana SiTaskin Pesisir, Pemerintah Perkuat Pengentasan Kemiskinan Nelayan Defence Attache Tour 2026 Singgah di Batam, Kenalkan Potensi Industri Maritim dan Investasi Batam Raih WTP ke-14 Beruntun, Li Claudia: Kepercayaan Ini Harus Dijaga

Batam

Etika Komunikasi dalam Budaya Minangkabau, Ada “Kato Nan Ampek”

badge-check


					Ilustrasi(Kompas.com/Wasti Samaria Simangunsong)

Perbesar

Ilustrasi(Kompas.com/Wasti Samaria Simangunsong)

Gennews.id — Dalam budaya Minangkabau ada etika berkomunikasi yang menjadi landasan atau pijakan. Budayawan Minangkabau Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto menyebutkan ada istilah “Kato Nan Ampek” (Kata Nan Empat). “Ada kato mandaki (kata mendaki), kato malereang (kato melereng), kato mandata (kata mendatar) dan kato manurun (kata menurun),” kata Musra yang dikenal dengan nama Mak Katik ini, Senin (22/1/2024) di Padang. Mak Katik mengatakan Kato Mandaki merupakan etika berbicara dengan orangtua, bertutur katalah dengan sopan dan tunjukkan rasa hormat.

Kato Malereang merupakan etika berbicara dengan orang yang dituakan secara adat atau orang-orang terhormat dari status sosial yang disandangnya. “Contohnya berbicara dengan saudara ipar memakai Kato Malereang,” kata Mak Katik.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Etika Komunikasi dalam Budaya Minangkabau, Ada “Kato Nan Ampek”,

Kato Malereang di Minangkabau juga digunakan untuk berkomunikasi dengan seseorang yang memiliki latar belakang status sosial tertentu, seperti datuak, tanpa memandang usia. “Walaupun usianya masih terbilang muda, namun datuak tetap didahulukan selangkah dan ditinggikan satu ranting,” ungkap Mak Katik. Kemudian Kato Mandata merupakan cara bertutur kata kepada teman sebaya. “Meskipun seusia, kata yang diucapkan tetap harus dalam koridor saling menghargai dan tidak menyinggung satu sama lain,'” kata Mak Katik.

“Walaupun usianya masih terbilang muda, namun datuak tetap didahulukan selangkah dan ditinggikan satu ranting,” ungkap Mak Katik. Kemudian Kato Mandata merupakan cara bertutur kata kepada teman sebaya. “Meskipun seusia, kata yang diucapkan tetap harus dalam koridor saling menghargai dan tidak menyinggung satu sama lain,'” kata Mak Katik.

Terakhir Kato Manurun yang digunakan saat berbicara kepada orang yang lebih muda, antaranya orangtua kepada anak, kakak kepada adik atau guru kepada siswa dan lainnya. “Walaupun kato manurun, tapi bahasanya jangan terlampau menukik menurunnya sehingga menyinggung yang muda sebagai lawan bicara,” kata Mak Katik. Selain kato nan ampek dalam etika berkomunikasi itu, kata Mak Katik, ada kato nan ampek lain dalam Minangkabau. “Sebenarnya ada empat langgam kato nan ampek. Totalnya ada 16 kato,” kata Mak Katik. Selain kato mandaki, malereang, mandata, dan manurun itu, ada lagi kato pusako (pusaka), kato buek (buat), kato dahulu (terdahulu) dan kato kudian (kemudian).(Sumber : Kompas.com)

Baca Lainnya

Ketua DPRD Batam Minta Maaf atas Molornya Jadwal Paripurna

21 Oktober 2026 - 19:49

DPRD Batam Setujui Perda Pengelolaan Sampah, Aturan Lama Dicabut

21 Oktober 2026 - 17:37

Ketua DPRD Batam Terima Lima Tuntutan HMI, Karhutla Jadi Sorotan

20 Oktober 2026 - 23:43

DPRD Batam Gelar Kejuaraan Domino Orado, Diikuti Forkopimda dan Organisasi Masyarakat

19 Oktober 2026 - 19:19

DPRD Batam Gelar Kejuaraan Minisoccer Meriahkan HUT ke-26

17 Oktober 2026 - 18:58

Trending di Batam