Menu

Mode Gelap
Audiensi ke Pemko Batam, ADOB Soroti Tarif Ojol, Operasional Taksi Bandara, Hingga BPJSTK Driver Excavator dan Dump Truck Beroperasi Bebas, Cut and Fill di Sei Temiang Batam Diduga Tak Kantongi Izin Apel Siaga Batam Peduli Bencana, Pemko Tegaskan Komitmen Solidaritas Antar Daerah Komisi I Pertanyakan Data TKA PT JEE, Ada yang Masuk Pakai Visa Wisata? LIBAS Laporkan Proyek Citywalk Lubuk Baja: Ada Apa dengan Perizinannya? Dugaan Pembuangan Limbah B3, LIBAS Laporkan Dua Perusahaan ke Polda Kepri

Batam

Etika Komunikasi dalam Budaya Minangkabau, Ada “Kato Nan Ampek”

badge-check


					Ilustrasi(Kompas.com/Wasti Samaria Simangunsong)

Perbesar

Ilustrasi(Kompas.com/Wasti Samaria Simangunsong)

Gennews.id — Dalam budaya Minangkabau ada etika berkomunikasi yang menjadi landasan atau pijakan. Budayawan Minangkabau Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto menyebutkan ada istilah “Kato Nan Ampek” (Kata Nan Empat). “Ada kato mandaki (kata mendaki), kato malereang (kato melereng), kato mandata (kata mendatar) dan kato manurun (kata menurun),” kata Musra yang dikenal dengan nama Mak Katik ini, Senin (22/1/2024) di Padang. Mak Katik mengatakan Kato Mandaki merupakan etika berbicara dengan orangtua, bertutur katalah dengan sopan dan tunjukkan rasa hormat.

Kato Malereang merupakan etika berbicara dengan orang yang dituakan secara adat atau orang-orang terhormat dari status sosial yang disandangnya. “Contohnya berbicara dengan saudara ipar memakai Kato Malereang,” kata Mak Katik.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Etika Komunikasi dalam Budaya Minangkabau, Ada “Kato Nan Ampek”,

Kato Malereang di Minangkabau juga digunakan untuk berkomunikasi dengan seseorang yang memiliki latar belakang status sosial tertentu, seperti datuak, tanpa memandang usia. “Walaupun usianya masih terbilang muda, namun datuak tetap didahulukan selangkah dan ditinggikan satu ranting,” ungkap Mak Katik. Kemudian Kato Mandata merupakan cara bertutur kata kepada teman sebaya. “Meskipun seusia, kata yang diucapkan tetap harus dalam koridor saling menghargai dan tidak menyinggung satu sama lain,'” kata Mak Katik.

“Walaupun usianya masih terbilang muda, namun datuak tetap didahulukan selangkah dan ditinggikan satu ranting,” ungkap Mak Katik. Kemudian Kato Mandata merupakan cara bertutur kata kepada teman sebaya. “Meskipun seusia, kata yang diucapkan tetap harus dalam koridor saling menghargai dan tidak menyinggung satu sama lain,'” kata Mak Katik.

Terakhir Kato Manurun yang digunakan saat berbicara kepada orang yang lebih muda, antaranya orangtua kepada anak, kakak kepada adik atau guru kepada siswa dan lainnya. “Walaupun kato manurun, tapi bahasanya jangan terlampau menukik menurunnya sehingga menyinggung yang muda sebagai lawan bicara,” kata Mak Katik. Selain kato nan ampek dalam etika berkomunikasi itu, kata Mak Katik, ada kato nan ampek lain dalam Minangkabau. “Sebenarnya ada empat langgam kato nan ampek. Totalnya ada 16 kato,” kata Mak Katik. Selain kato mandaki, malereang, mandata, dan manurun itu, ada lagi kato pusako (pusaka), kato buek (buat), kato dahulu (terdahulu) dan kato kudian (kemudian).(Sumber : Kompas.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Audiensi ke Pemko Batam, ADOB Soroti Tarif Ojol, Operasional Taksi Bandara, Hingga BPJSTK Driver

20 Januari 2026 - 00:18

Excavator dan Dump Truck Beroperasi Bebas, Cut and Fill di Sei Temiang Batam Diduga Tak Kantongi Izin

16 Januari 2026 - 21:38

DPC Persatuan Pemuda Pulau-Pulau Batam Sematkan Tanjak ke Kapolresta Barelang, Tegaskan Jati Diri Melayu

15 Januari 2026 - 18:30

Dugaan Aktivitas Judi Bola Pimpong Mencuat, Grand Ozon KTV Batam Jadi Sorotan

13 Januari 2026 - 18:14

Kejar-kejaran Dramatis, Bea Cukai Batam Amankan Speedboat Penyelundup 54 Koli Barang Ilegal

10 Januari 2026 - 15:27

Trending di Batam