Menu

Mode Gelap
Batam Jadi Lokasi Perdana SiTaskin Pesisir, Pemerintah Perkuat Pengentasan Kemiskinan Nelayan Defence Attache Tour 2026 Singgah di Batam, Kenalkan Potensi Industri Maritim dan Investasi Batam Raih WTP ke-14 Beruntun, Li Claudia: Kepercayaan Ini Harus Dijaga Batam Melesat! Investasi Tumbuh Pesat, Pemko Siapkan Teknologi Pengolah Sampah Jadi Energi Sekda Batam Sambut Kepulangan 442 Jemaah Haji: Semoga Menjadi Haji Mabrur Peringati Hari Lahir Pancasila, Pemko Batam Teguhkan Komitmen Jaga Kerukunan dan Persatuan

Batam

Etika Komunikasi dalam Budaya Minangkabau, Ada “Kato Nan Ampek”

badge-check


					Ilustrasi(Kompas.com/Wasti Samaria Simangunsong)

Perbesar

Ilustrasi(Kompas.com/Wasti Samaria Simangunsong)

Gennews.id — Dalam budaya Minangkabau ada etika berkomunikasi yang menjadi landasan atau pijakan. Budayawan Minangkabau Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto menyebutkan ada istilah “Kato Nan Ampek” (Kata Nan Empat). “Ada kato mandaki (kata mendaki), kato malereang (kato melereng), kato mandata (kata mendatar) dan kato manurun (kata menurun),” kata Musra yang dikenal dengan nama Mak Katik ini, Senin (22/1/2024) di Padang. Mak Katik mengatakan Kato Mandaki merupakan etika berbicara dengan orangtua, bertutur katalah dengan sopan dan tunjukkan rasa hormat.

Kato Malereang merupakan etika berbicara dengan orang yang dituakan secara adat atau orang-orang terhormat dari status sosial yang disandangnya. “Contohnya berbicara dengan saudara ipar memakai Kato Malereang,” kata Mak Katik.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Etika Komunikasi dalam Budaya Minangkabau, Ada “Kato Nan Ampek”,

Kato Malereang di Minangkabau juga digunakan untuk berkomunikasi dengan seseorang yang memiliki latar belakang status sosial tertentu, seperti datuak, tanpa memandang usia. “Walaupun usianya masih terbilang muda, namun datuak tetap didahulukan selangkah dan ditinggikan satu ranting,” ungkap Mak Katik. Kemudian Kato Mandata merupakan cara bertutur kata kepada teman sebaya. “Meskipun seusia, kata yang diucapkan tetap harus dalam koridor saling menghargai dan tidak menyinggung satu sama lain,'” kata Mak Katik.

“Walaupun usianya masih terbilang muda, namun datuak tetap didahulukan selangkah dan ditinggikan satu ranting,” ungkap Mak Katik. Kemudian Kato Mandata merupakan cara bertutur kata kepada teman sebaya. “Meskipun seusia, kata yang diucapkan tetap harus dalam koridor saling menghargai dan tidak menyinggung satu sama lain,'” kata Mak Katik.

Terakhir Kato Manurun yang digunakan saat berbicara kepada orang yang lebih muda, antaranya orangtua kepada anak, kakak kepada adik atau guru kepada siswa dan lainnya. “Walaupun kato manurun, tapi bahasanya jangan terlampau menukik menurunnya sehingga menyinggung yang muda sebagai lawan bicara,” kata Mak Katik. Selain kato nan ampek dalam etika berkomunikasi itu, kata Mak Katik, ada kato nan ampek lain dalam Minangkabau. “Sebenarnya ada empat langgam kato nan ampek. Totalnya ada 16 kato,” kata Mak Katik. Selain kato mandaki, malereang, mandata, dan manurun itu, ada lagi kato pusako (pusaka), kato buek (buat), kato dahulu (terdahulu) dan kato kudian (kemudian).(Sumber : Kompas.com)

Baca Lainnya

Batam Jadi Lokasi Perdana SiTaskin Pesisir, Pemerintah Perkuat Pengentasan Kemiskinan Nelayan

8 Juli 2026 - 11:04

Dari Investasi hingga Perlinsos, Amsakar Gandeng RT dan RW Perkuat Komunikasi Publik

7 Juli 2026 - 10:57

Setwan DPRD Batam Disorot, Dugaan Penggunaan Lahan dan Listrik Kantor untuk Proyek Pagar Dipertanyakan

1 Juli 2026 - 17:08

IIBN Gandeng PWI Batam, Tawarkan Beasiswa S-1 untuk Wartawan PWI Batam

30 Juni 2026 - 12:03

Bea Cukai Batam Catat 554 Penindakan dan Penerimaan Negara Rp474,86 Miliar hingga Juni 2026

26 Juni 2026 - 19:19

Trending di Batam