Tanjungpinang — Wisatawan yang tiba di Pelabuhan Sri Bintan Pura (SBP) menuju Pulau Penyengat dinilai perlu mendapat alternatif akses yang lebih dekat. Pembukaan akses penyeberangan dari kawasan SBP dinilai dapat membuat perjalanan menuju Penyengat lebih singkat dan praktis.
Ketua Gerakan Anak Melayu Negeri Riau (GAMNR), Said Ahmad Syukri atau akrab disapa Sas Jhoni, mendorong agar akses penyeberangan menuju Pulau Penyengat dapat dibuka dari kawasan SBP. Hal itu disampaikannya, Minggu (20/9/2026).
Sas Jhoni mengatakan akses yang lebih dekat akan memudahkan wisatawan, terutama wisatawan mancanegara yang datang melalui jalur internasional dan domestik.
“Kalau kita ingin menjadikan Pulau Penyengat sebagai destinasi unggulan wisata sejarah dan budaya, aksesnya juga harus dipermudah. Wisatawan yang datang melalui SBP harus mendapatkan akses yang lebih praktis untuk menuju Penyengat,” kata Sas Jhoni.
Dia menyebut Pulau Penyengat memiliki daya tarik bagi wisatawan dari Singapura, Malaysia maupun daerah lainnya. Sejumlah agen perjalanan di Batam juga membawa wisatawan untuk mengunjungi pulau tersebut.
“Pulau Penyengat memiliki daya tarik yang kuat. Wisman dari Singapura dan Malaysia datang bukan hanya untuk melihat objek wisata, tetapi juga ingin mengenal sejarah dan kebudayaan Melayu yang ada di Penyengat,” ujarnya.
Selain akses, Sas Jhoni mendorong peningkatan sarana transportasi laut. Pompong yang menjadi salah satu moda penyeberangan menuju Penyengat perlu diarahkan menjadi armada yang lebih modern.
“Transportasi harus diubah dari pompong tradisional menjadi pompong modern,” katanya.
Modernisasi armada dinilai penting untuk meningkatkan kenyamanan dan keselamatan wisatawan yang menyeberang menuju Pulau Penyengat.
Sementara itu, Ilyas, salah seorang penambang yang melayani rute Pulau Penyengat, berharap Pelindo dan Pemerintah Kota Tanjungpinang dapat membuka alternatif akses penyeberangan dari SBP.
“Kalau bisa akses dari Pelabuhan Sri Bintan Pura dibuka agar lebih dekat. Dengan begitu, wisatawan memiliki alternatif akses yang lebih mudah dan perjalanan menuju Penyengat bisa lebih singkat,” ujar Ilyas.
Ilyas mengatakan pembukaan akses tersebut dapat dibicarakan bersama dengan para penambang agar pengaturan jalur dan aktivitas penyeberangan tetap berjalan baik.
Sas Jhoni menilai pembenahan akses dan transportasi perlu berjalan beriringan. Pengembangan destinasi wisata, kata dia, perlu diikuti kemudahan akses menuju lokasi.
“Jangan hanya destinasi yang kita bangun, tetapi akses menuju destinasi juga harus nyaman. Harapan kita, wisatawan semakin mudah datang ke Penyengat dan masyarakat lokal juga ikut merasakan manfaat ekonominya,” pungkas Sas Jhoni. (Reza)













